Selasa, 10 Januari 2017

Akulah Banten

Akulah Banten
Aku terlahir dari ceceran darah para Sultan
Aku di lahirkan di negeri hukum
Alamatku di Undang Undang Republik Indonesia nomor 23 tahun 2000
Kala lahir aku di adzani bapak presiden yang di kenal dunia
Hingga namaku tertera pada domain publik di Amerika

Akulah Banten
Akulah bara api terakhir yang hangus sisa penjajahan
Akulah tungku kesemangatan yang hilang di gerus ironi keserakahan zaman
Akulah kerihkil kerihkil jalanan yang terseret roda-roda kemewahan
Kemewahan yang berideologi pada ketidak adilan
Kemewahan yang berpedoman pada keangkuhan

Kalian adalah partikel partikel semangatku
Kalian adalah darah  darah yang menghidupkan jantungku
Kalian adalah Pembawa Hati yang suci
Maka
Janganlah kotori hatiku
Panggilanku Iman Taqwa
Apa kalian tidak malu jika namaku tidak sesuai dengan akhlaq ku ?
Apa kalian sama sekali tidak memikirkan itu ? 


Sadarlaaaah wahai tubuhku !!! 

Kepalaku bijaksana adil dan ingin memakmurkan
Siapa yang ingin menjadi kepalaku ?
Berkeperibadianlah seperti kepalaku
Aku tidak butuh yang hanya ingin mengagulkan namamu
Aku tidak butuh yang hanya ingin merampas hak hak majemuk bagian dari tubuhku yang tersisihkan
Aku tidak butuh yang hanya berceloteh dalam kekosongan
Kepalaku bukan dinasti
Ini negara bukan lagi kerajaan
 

Camkan itu wahai tubuhku !!!

Ones Darwan -
Serang, 4 Oktober 2016

Kamis, 21 Juni 2012

Curahku Untuk Ayah yang Kaku

Dalam mendung hempasan semesta
Gemuruh riuh menyambut senja
Hingga lembayung tak  terkemuka
Akankah hujan turun segera

Kala itulah daku berada
Lemas memandang batu nisannya
Senyum asing dari bibirnya
Hanyalah bayang yang bernada

Di atas bukit engkau menyapa 
Bibir bergetar membungkau suara
Memanggil pilu ku yang merana
Sebatas khayal lintasi jiwa

Ayaah !
Aku riindu pepatahmu
Iringi pilu mengenangmu 
Kepada siapa ku memegang
Sebrangi dunia yang mengejam

rinduku  kini terkubur
Usai engkau telah teratur
Hanya mengecup batu di kubur
menyobek rindu yang meluhur

Memori jingga selalu ku baca
Tentang nafas yang engkau hela
Rindupun makin membuka
Hingga asa terus menghina

Tahukah kau yang aku rasa?
Setelah kau tinggalkan jasa
ku banyak menanggung beban 
Terseret waktu yang mengencang

Sungguh lelah batin tercela
Membaca dunia tanpa sang rama
Beruntung qalbu menegarkannya
Meski penebang berjuta-juta

Apakah dunia memandangku ?
Lantas mana biru riaku ?
Hak meremuk di atas batu
Tinggallah tangis yang membeku

Namun semua tak akan sirna
Jika takdir tak ku terima
Tanpa engkau ku harus mujur
Hak manisku tak boleh hancur

Cambuk kecilah sang penegar
Adalah tuhan penegak  qadar
Ku ikhlaskan kau di mahsyar
Balighkan diri ikat yang benar

Biarkanku menerjang pana
Tenanglah kau di rumpun syurga
Kita harus sama bahagia
Meski kita beda cahaya

Untukmu merpati mengantar
Sebukit do'a selembah cinta
Meski dunia terus mencakar
Senyum tak putus tuk ayahanda

Karya : ones Darwan

Minggu, 22 Januari 2012

Pedang Pembunuh Tuan

Serpihan bintang  buram itu daku peluk dengan erat
Hingga menggelitik lentik ke palung hati
Ternyata adalah lirih perih nyanyian hidup ini

Saat saat ku menunggu kau membuka hati

Mengasah wajah ayu rupawannya 
Selalu kupetik disetiap tangga nada
Dan kugenggam erat untaian lisannya
Tak kunjung ku bisik
ikan kedalam bahtera

Usaha ku mencari kunci adalah sejalannya waktu meracuni hati
Kuterbius dalam lara dan terpenjara dalam cinta

Mengemis mencari tahu memaksa secuil pinta
Apakah linangan cinta ini kau terima lapang dada ?

Semakin ku terbang semakin kau menghilang
Semakin tinggi ku melayang semakin kau mencerca rasa

Dan kini sebelah sayap tak bernyawa
Hingga ku terjatuh kedalam buai asmara


Akhirnya ku bercermin mawaskan diri
Mencari cahaya semilir tahta

Dan kutemui pedang di tangan
Yang nampak membunuh tuan

Adalah ego merasuk busuk
Mengikat raga mengalunkan siksa
Maaf, bukan ku pengecut
Memaksa pulang menghapus cerita


Karya : Ones Darwan

Rabu, 18 Januari 2012

Menyunting Malam Kelabu

Namun denting melodi menyapa poriku
Dan mengajak berdansa dalam bunga malam
Membentak saxsofon si periang itu
Maka Malam hening tak usah di hujam dengan hujan si neraca semesta

Segeralah tutupi bola mata dengan kelopakmu
Segeralah berbaring di atas bunga malammu
Untuk meneteskan linang damai pematri santai
Memikat rasa mengubah kecewa

Perawan hari akan menyambut lirik
setelah sang pajar menyulam gelap
Dan burungpun akan bernyanyi
Mengajak riang membangun waktu
Waktu malam yang membesit kelabu

Maka helakan nafas di depan dada
Untuk membuang lara di belakang pundak
Tikam cinta di atas awan
Untuk mengejar cita di hari yang akan datang.


Karya : Ones Darwan