Kamis, 21 Juni 2012

Curahku Untuk Ayah yang Kaku

Dalam mendung hempasan semesta
Gemuruh riuh menyambut senja
Hingga lembayung tak  terkemuka
Akankah hujan turun segera

Kala itulah daku berada
Lemas memandang batu nisannya
Senyum asing dari bibirnya
Hanyalah bayang yang bernada

Di atas bukit engkau menyapa 
Bibir bergetar membungkau suara
Memanggil pilu ku yang merana
Sebatas khayal lintasi jiwa

Ayaah !
Aku riindu pepatahmu
Iringi pilu mengenangmu 
Kepada siapa ku memegang
Sebrangi dunia yang mengejam

rinduku  kini terkubur
Usai engkau telah teratur
Hanya mengecup batu di kubur
menyobek rindu yang meluhur

Memori jingga selalu ku baca
Tentang nafas yang engkau hela
Rindupun makin membuka
Hingga asa terus menghina

Tahukah kau yang aku rasa?
Setelah kau tinggalkan jasa
ku banyak menanggung beban 
Terseret waktu yang mengencang

Sungguh lelah batin tercela
Membaca dunia tanpa sang rama
Beruntung qalbu menegarkannya
Meski penebang berjuta-juta

Apakah dunia memandangku ?
Lantas mana biru riaku ?
Hak meremuk di atas batu
Tinggallah tangis yang membeku

Namun semua tak akan sirna
Jika takdir tak ku terima
Tanpa engkau ku harus mujur
Hak manisku tak boleh hancur

Cambuk kecilah sang penegar
Adalah tuhan penegak  qadar
Ku ikhlaskan kau di mahsyar
Balighkan diri ikat yang benar

Biarkanku menerjang pana
Tenanglah kau di rumpun syurga
Kita harus sama bahagia
Meski kita beda cahaya

Untukmu merpati mengantar
Sebukit do'a selembah cinta
Meski dunia terus mencakar
Senyum tak putus tuk ayahanda

Karya : ones Darwan

Minggu, 22 Januari 2012

Pedang Pembunuh Tuan

Serpihan bintang  buram itu daku peluk dengan erat
Hingga menggelitik lentik ke palung hati
Ternyata adalah lirih perih nyanyian hidup ini

Saat saat ku menunggu kau membuka hati

Mengasah wajah ayu rupawannya 
Selalu kupetik disetiap tangga nada
Dan kugenggam erat untaian lisannya
Tak kunjung ku bisik
ikan kedalam bahtera

Usaha ku mencari kunci adalah sejalannya waktu meracuni hati
Kuterbius dalam lara dan terpenjara dalam cinta

Mengemis mencari tahu memaksa secuil pinta
Apakah linangan cinta ini kau terima lapang dada ?

Semakin ku terbang semakin kau menghilang
Semakin tinggi ku melayang semakin kau mencerca rasa

Dan kini sebelah sayap tak bernyawa
Hingga ku terjatuh kedalam buai asmara


Akhirnya ku bercermin mawaskan diri
Mencari cahaya semilir tahta

Dan kutemui pedang di tangan
Yang nampak membunuh tuan

Adalah ego merasuk busuk
Mengikat raga mengalunkan siksa
Maaf, bukan ku pengecut
Memaksa pulang menghapus cerita

Rintisan Hati : Ones Darwan

Rabu, 18 Januari 2012

Menyunting Malam Kelabu

Namun denting melodi menyapa poriku,
Dan mengajak berdansa dalam bunga malam,
Membentak saxsofon si periang itu,
Menyunting Malam Kelabu
Maka Malam hening tak usah di hujam dengan hujan si neraca semesta,

Segeralah tutupi bola mata dengan kelopakmu,
Segeralah berbaring di atas bunga malammu,
Untuk meneteskan linang damai pematri santai,
Memikat rasa mengubah kecewa,

Perawan hari akan menyambut lirik
setelah sang pajar menyulam gelap,
Dan burungpun akan bernyanyi,
Mengajak riang membangun waktu,
Waktu malam yang membesit kelabu,

Maka helakan nafas di depan dada,
Untuk membuang lara di belakang pundak,
Tikam cinta di atas awan,
Untuk mengejar cita di hari yang akan datang.


Terbesit Dosa Dalam Sehelai Raga

Sejenak Ku Terdiam
Memandang tajam wanita malang
Adalah dia menantang Tuhan
Menyimpan ego dalam haram

Kapankah dia akan sadar ?
Waktu lirih pemancar qalbu
Ku berharap dia kan iman
Seraya uji membentang angan

Ingin ku lihat angin menyapu debu
Sampai dia tak ternoda
Mengalun dihati terbesit dosa
Karena ia membuka sehelai raga

Wahai jelita pemandu dosa
Elokkanlah hatimu senada dengan wajahmu
Jangan kau ikat syetan dalam buhulmu
Hingga ku ragu membuai asmara sekujur tubuhmu

Karya : Ones Darwan